Rabu, 11 Januari 2012

Panen Raya Padi Kerjasama BPP Gondang dan PT. DAPI

Hari Selasa, 10 Januari 2012. Ada pemandangan yang tidak biasa di BPP Gondang. Spanduk dan umbul-umbul berjajar rapi di sepanjang jalan menuju kantor BPP. Tenda merah terpasang di halaman BPP sejak Hari Senin, 9 Januari 2012. Selasa paginya, sudah lengkap dengan panggung dan barisan kursi oranye.
umbul umbul di sepanjang jalanan menuju BPP
tenda merah, panggung, dan kursi oranye




Event besar yang tidak biasa ini bertajuk Panen Raya Padi Demplot PT. DuPont. Memang, musim tanam kali ini, sebagian lahan sawah di sekitar kantor BPP Gondang digunakan untuk demplot dari salah satu produk PT. DuPont , yaitu Prevathon 50 SC. Insektisida sistemik yang ramah lingkungan. 

Menurut Edi Sapto Dewo, dari Pusat Pengembangan dan Penelitian PT DAPI (DuPont Agricultural Products Indonesia) , Prevathon 50 SC merupakan insektisida golongan baru yang memiliki kandungan kimia relatif aman terhadap manusia, mamalia, ikan, dan serangga berguna seperti lebah penyerbuk. (http://suaramerdeka.com/harian/0711/19/eko07.htm)

penimbangan hasil ubinan lahan dem perlakuan

Pagi sebelum acara mulai, petani pemilik lahan telah melakukan pengubinan untuk membuktikan hasil perlakuan insektisida Prevathon 50 SC. Pembandingnya adalah kontrol yaitu lahan sawah di sampingnya yang tidak menggunakan Prevathon 50 SC.

Hasil penimbangannya seperti yang disampaikan Pak Sarwani (Koordinator PPL BPP Gondang), yaitu di lahan yang menggunakan Prevathon adalah 6,75 kg dan yang tidak menggunakan Prevathon adalah 5,25 kg.

Beberapa gerai tenda untuk display produk PT. DAPI juga telah siap sejak pagi. Termasuk divisi benih yang menampilkan benih jagung Pioneer dan padi hibrida.
Display produk PT. DAPI













Pak Masduki di gerai divisi benih




















Padi HIPA 8 dan jagung P 21














Peserta yang diundang sebanyak 150 orang, yaitu para petani kelompok pria maupun wanita dari semua desa di wilayah Kecamatan Gondang.

Registrasi peserta 














Ketua KTNA Kecamatan, Mantri Tani dan para kontak tani













Sebagian peserta menuju tenda















Peserta














Sambutan BKPP (Ir. Suhono)

Banyak informasi yang disampaikan baik dari BPP maupun BKPP untuk para peserta yang hadir.  
Bapak Ir. Suhono dari BKPP Tulungagung, menyampaikan pesan mengenai peminjaman modal melalui UKM yang bisa diakses oleh petani untuk pengembangan usaha pertanian dan peternakan mereka.

Sementara Bapak Sarwani,SP. (Koordinator PPL BPP Gondang) menekankan penggunaan pupuk organik untuk semua lahan pertanian, sekaligus menunjukkan hasil demplot pupuk organik yang dilakukan di lahan sawah BPP Gondang. Pak Sarwani juga mempersilahkan para peserta untuk melihat halaman belakang BPP yang sedang dilaksanakan demplot penggemukan kambing dengan pakan kering.

Berikut ini adalah sebagian foto yang diambil dalam acara ini, semoga dapat memberi gambaran tetang pelaksanaan kegiatannya.
 
Welcome song, Pak Hariyadi "Pesolima"
Persiapan konsumsi dari Restoran Mak Nyang, Bolorejo, Kauman
Pembukaan oleh MC
Sambutan PT. Du Pont


Panen simbolis
Perwakilan BKPP, BPP, PT. DuPont, Petani
Perwakilan PT Du Pont dan Petani
Meja konsumsi
Makan bersama
Kandang kambing BPP Gondang
Lahan BPP Gondang
Melihat kambing
Paduan suara BPP Gondang






































































































































































Di akhir kegiatan, setelah lelah mondar mandir dan bantu sana sini, ibu-ibu PPL BPP Gondang  secara spontan membentuk grup paduan suara.

Ternyata menyanyi itu bisa jadi obat lelah ya...hehe..

Jumat, 30 Desember 2011

SLPTT Kacang Tanah Desa Sidem

Pada Hari Selasa, 20 Desember 2011 di Desa Sidem, Kecamatan Gondang, dilaksanakan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu untuk komoditi kacang tanah dan padi gogo varietas situ bagendit. Pertemuan di Dusun Bago itu dihadiri oleh sekitar 30 orang petani yang menanam kacang tanah. Pertemuan tersebut juga dihadiri oleh petugas PPL dari BPP Gondang , Bapak Sutrisno dan mantri tani Bapak Ir. Sali.


Para peserta sekolah lapang

Pak Sali menjelaskan tentang sekolah lapang pengelolaan kacang tanah dan padi gogo, sarana dan fasilitas yang diberikan pemerintah untuk para petani peserta sekolah. Juga tentang pertemuan-pertemuan lanjutan yang seharusnya dilaksanakan oleh para petani dalam rangka pembelajaran tersebut.

Ir. Sali (Mantri Tani) sedang menjelaskan tentang SLPTT Kacang tanah

Pak Tris, PPL yang sekaligus Penyuluh Kehutanan Lapang di Kecamatan Gondang menjelaskan tentang teknis budidaya kacang tanah dengan lokasi lahan kering di lereng pegunungan Desa Sidem.

Pak Soetrisno, SP. sedang menjelaskan teknis budidaya kacang tanah

Seusai penjelasan tentang teknis pelaksanaan pertemuan dan sekolah lapang, juga tentang fasilitas dan sarana pembelajaran bagi peserta sekolah lapang, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapang untuk melihat langsung lokasi penanaman kacang tanah.

Papan informasi di lahan

Tanaman yang terserang penyakit

Pak Tris dan Pak Istat

Jalur jalan menuju lokasi penanaman 

Pak istat di lahan penanaman padi gogo varieatas Situ Bagendit

Kamis, 17 November 2011

Kerja Bakti Program Rumah Hijau

Program rumah hijau telah disosialisasikan di wilayah binaan Kecamatan Gondang. Ibu-ibu penggerak dan pengurus PKK tingkat kecamatan dan desa bertekad bulat untuk mensukseskan program rumah hijau. Benih sayur, pupuk, pestisida, polibag dilengkapi alat semprot telah dibagikan kepada ibu-ibu ketua tim penggerak PKK di tingkat desa.

Penanaman benih sayuran juga sudah terlaksana dengan baik di kantor kecamatan Gondang dibantu oleh para PPL dari BPP yang bekerjasama dengan para pegawai kantor kecamatan.

Foto di bawah ini adalah suasana menjelang penanaman bibit sayur mayur di halaman kantor kecamatan Gondang. Media tanam terdiri dari tanah, sekam, pupuk kandang, dengan perbandingan 1:1:1. Setelah tercampur merata, media tanam tersebut kemudian dimasukkan ke dalam polibag untuk ditanami benih sayur mayur.

Di kantor BPP Gondang, program rumah hijau dimulai tidak lama berselang setelah itu. Para PPL sebagai pembina program rumah hijau juga harus menanam sayur di lahan BPP. Kegiatan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bertanam sayur, sehingga para penyuluh menjadi lebih percaya diri membina program rumah hijau di desa binaan masing-masing.

Foto-foto berikut adalah sebagian yang terambil pada waktu pengisian polibag dan penanaman benih sayur mayur untuk program rumah hijau di halaman kantor BPP.







Di halaman depan kantor juga tumbuh tanaman ubi jalar dengan sangat subur. Tanaman organik, tanpa pestisida dan pupuk kimia. Sesekali daun mudanya diambil untuk dikonsumsi sebagai sayur dan dimakan bersama sambel. (enak lho..)

Demikian pula pada hari itu. Setelah bekerja bakti menanam sayur mayur, maka kamipun makan bersama dengan tambahan sayur dari kebun; daun muda ubi jalar .

Mbak Sutinah, sedang memetik sayur daun ubi.

Selasa, 18 Oktober 2011

TEKNOLOGI TEPAT GUNA
Mentri Negara Riset dan Teknologi

Alat Pengolahan | Budidaya Pertanian | Budidaya Perikanan | Budidaya Peternakan |
Pengelolaan dan Sanitasi | Pengolahan Pangan

TTG BUDIDAYA PETERNAKAN

BUDIDAYA TERNAK KAMBING

  1. KELUARAN
    Ternak kambing produksi optimal
  2. BAHAN
    Kambing, pakan, peralatan konstruksi kandang, lahan
  3. ALAT
    Tempat pakan/minum
  4. PEDOMAN TEKNIS
    1. Jenis kambing asli di Indonesia adalah kambing kacang dan kambing peranakan etawa (PE)
    2. Memilih bibit
      Pemilihan bibit diperlukan untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik. Pemilihan calon bibit dianjurkan di daerah setempat, bebas dari penyakit dengan phenotype baik.
      1. Calon induk
        Umur berkisar antara > 12 bulan, (2 buah gigi seri tetap), tingkat kesuburan reproduksi sedang, sifat keindukan baik, tubuh tidak cacat, berasal dari keturunan kembar (kembar dua), jumlah puting dua buah dan berat badan > 20 kg.
      2. Calon pejantan
        Pejantan mempunyai penampilan bagus dan besar, umur > 1,5 tahun, (gigi seri tetap), keturunan kembar, mempunyai nafsu kawin besar, sehat dan tidak cacat.
    3. Pakan
      1. Ternak kambing menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakan tambahan (konsentrat).
      2. Pakan tambahan dapat disusun dari (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak, tepung ikan ditambah mineral dan vitamin.
      3. Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka, dsb.
      4. Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau 10 - 15 % berat badan (dasar bahan segar)
    4. Pemberian pakan induk
      Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua dan baru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.
    5. Kandang
      Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1 1/2 m² untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m², sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m/ekor. tinggi penyekat 1 1/2 - 2 X tinggi ternak.
    6. Pencegahan penyakit : sebelum ternak dikandangkan, kambing harus dibebaskan dari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengan dimandikan.
  5. SUMBER
    Departemen Pertanian, http://www.deptan.go.id.
  6. KONTAK HUBUNGAN
    Departemen Pertanian RI, Jalan Harsono RM No. 3, Ragunan - Pasar Minggu, Jakarta 12550 - Indonesia

TERNAK KAMBING

  1. PENDAHULUAN
    Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50 - 150 gram per hari. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu: bibit, makanan, dan tata laksana.
  2. BIBIT
    Pemilihan bibit harus disesuaikan dengan tujuan dari usaha, apakah untuk pedaging, atau perah (misalnya: kambing kacang untuk produksi daging, kambing etawah untuk produksi susu, dll). Secara umum ciri bibit yang baik adalah yang berbadan sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggi terhadap lingkungan.
    • Ciri untuk calon induk:
      1. Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuh besar, tapi tidak terlalu gemuk.
      2. Jinak dan sorot matanya ramah.
      3. Kaki lurus dan tumit tinggi.
      4. Gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata.
      5. Dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda.
      6. Ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah.
    • Ciri untuk calon pejantan :
      1. Tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi, dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan memiliki libido (nafsu kawin) tinggi.
      2. Kaki lurus dan kuat.
      3. Dari keturunan kembar.
      4. Umur antara 1,5 sampai 3 tahun.
  3. MAKANAN
    Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakan yang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudah dicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Pada dasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makan tambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa, vitamin dan mineral).
    Cara pemberiannya :
    • Diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore), berat rumput 10% dari berat badan kambing, berikan juga air minum 1,5 - 2,5 liter per ekor per hari, dan garam berjodium secukupnya.
    • Untuk kambing bunting, induk menyusui, kambing perah dan pejantan yang sering dikawinkan perlu ditambahkan makanan penguat dalam bentuk bubur sebanyak 0,5 - 1 kg/ekor/hari.
  4. TATA LAKSANA
    1. Kandang
      Harus segar (ventilasi baik, cukup cahaya matahari, bersih, dan minimal berjarak 5 meter dari rumah).
      Ukuran kandang yang biasa digunakan adalah :
      Kandang beranak : 120 cm x 120 cm /ekor
      Kandang induk : 100 cm x 125 cm /ekor
      Kandang anak : 100 cm x 125 cm /ekor
      Kandang pejantan : 110 cm x 125 cm /ekor
      Kandang dara/dewasa : 100 cm x 125 cm /ekor
    2. Pengelolaan reproduksi
      Diusahakan agar kambing bisa beranak minimal 3 kali dalam dua tahun.
      Hal-hal yang harus diperhatikan adalah :
      1. Kambing mencapai dewasa kelamin pada umur 6 s/d 10 bulan, dan sebaiknya dikawinkan pada umur 10-12 bulan atau saat bobot badan
        mencapai 55 - 60 kg.
      2. Lama birahi 24 - 45 jam, siklus birahi berselang selama 17 - 21 hari.
      3. Tanda-tanda birahi : gelisah, nafsu makan dan minum menurun, ekor sering dikibaskan, sering kencing, kemaluan bengkak dan mau/diam bila
        dinaiki.
      4. Ratio jantan dan betina = 1 : 10
        Saat yang tepat untuk mengawinkan kambing adalah :
        1. Masa bunting 144 - 156 hari (.... 5 bulan).
        2. Masa melahirkan, penyapihan dan istirahat ± 2 bulan.
    3. Pengendalian Penyakit
      1. Hendaknya ditekankan pada pencegahan penyakit melalui sanitasi kandang yang baik, makanan yang cukup gizi dan vaksinasi.
      2. Penyakit yang sering menyerang kambing adalah: cacingan, kudis (scabies), kembung perut (bloat), paru-paru (pneumonia), orf, dan koksidiosis.
    4. Pasca Panen
      1. Hendaknya diusahakan untuk selalu meningkatkan nilai tambah dari produksi ternak, baik daging, susu, kulit, tanduk, maupun kotorannya. Bila kambing hendak dijual pada saat berat badan tidak bertambah lagi (umur sekitar 1 - 1,5 tahun), dan diusahakan agar permintaan akan kambing cukup tinggi.
      2. Harga diperkirakan berdasarkan : berat hidup x (45 sampai 50%) karkas x harga daging eceran.
  5. CONTOH ANALISA USAHA TERNAK KAMBING
    1. Pengeluaran
      1. Bibit
        • Bibit 1 ekor pejantan = 1 x Rp. 250.000,- Rp. 250.000,-
        • Bibit 6 ekor betina = 1 x Rp. 200.000,- Rp. 1.200.000,-
          Total Rp. 1.450.000,-
      2. Kandang Rp. 500.000,-
      3. Makanan Rp. 200.000,-
      4. Obat-obatan Rp. 100.000,-
        Total Pengeluaran Rp. 2.250.000,-
    2. Pemasukan
      1. Dari anaknya
        Jika setelah 1 tahun, ke 6 produk menghasilkan 2 ekor, jumlah kambing yang bisa dijual setelah 1 tahun = 12 ekor. Jika harga tiap ekor Rp. 150.000,- maka dari 12 ekor tersebut akan dihasilkan : 12 x Rp. 150.000,- = Rp. 1.800.000,-
      2. Dari induk
        Pertambahan berat induk 50 gram per ekor per hari, maka setelah 2 tahun akan dihasilkan pertambahan berat : 7 x 50 gr x 365 = 127,75 kg. Total daging yang dapat dijual (7 x 15 kg) + 127,75 kg = 232,75 kg. Pendapatan dari penjualan daging = 232,75 kg x Rp. 10.000,-=Rp.2.327.500,-
      3. Dari kotoran :
        Selama 2 tahun bisa menghasilkan ± 70 karung x Rp. 1.000,- = Rp. 70.000,-
    3. Keuntungan
      1. Masuk:Rp.1.800.000+Rp. 2.327.500+Rp. 70.000 == Rp. 4.197.500,-
      2. Keluar:Rp.1.450.000+Rp.500.000+Rp.200.000+Rp.100.000 == Rp. 2.250.000
      3. Keuntungan selama 2 th: Rp. 4.197.500,- dikurang Rp. 2.250.000 == Rp. 1.947.500,- atau Rp. 81.145,- per bulan.
  6. SUMBER
    Brosur Ternak Kambing, Dinas Peternakan, Pemerintah DKI Jakarta, Jakarta Pusat (tahun 1997).
  7. KONTAK HUBUNGAN
    Dinas Peternakan, Pemerintah DKI Jakarta, Jl. Gunung Sahari Raya No. 11 Jakarta Pusat, Tel. (021) 626 7276 , 639 3771 atau 600 7252 Pes. 202 Jakarta.
Sumber: http://www.iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=4&doc=4a16

Rabu, 21 September 2011

Studi Banding FEATI ke Senduro, Lumajang.

Pembelajaran FEATI tahun 2011 untuk FMA Desa Gondang dan Blendis, Kecamatan Gondang adalah budidaya ternak kambing perah. Sebagaimana program pembelajaran pada tahun-tahun sebelumnya, peserta pembelajaran harus mengikuti studi banding yang berkaitan dengan topik yang dipelajari.
Studi banding pada tahun ini dilaksanakan kemarin, hari Selasa 20 September 2011. Lokasi yang dituju adalah pengusaha ternak kambing perah peranakan ettawa di Kecamatan Senduro Kab. Lumajang, Jawa Timur.
Perjalanan yang cukup jauh dan memerlukan waktu panjang, mengharuskan semua peserta mempersiapkan diri lebih awal. Hal ini mengharuskan pula untuk berangkat lebih awal sehingga dapat mengoptimalkan waktu kunjungan dan mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.
Oleh karena itu, semua peserta siap berangkat pada Hari Senin malam pukul 22.00 WIB. di titik kumpul yang disepakati yaitu di depan balaidesa Gondang. Semua peserta studi banding berjumlah sekitar 60 orang dan terangkut dengan dua buah bus mini.
Perjalanan lancar dan berhenti ketika masuk waktu subuh di Probolinggo. Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Kami langsung menuju ke kantor BPP Kecamatan Senduro. Masih cukup pagi, yaitu pukul 07.30 WIB Hari Selasa.
Rombongan disambut oleh koordinator penyuluh BPP Senduro, Bapak Lili. Beliau menceritakan profil wilayah binaan di kecamatan Senduro, potensi produk pertanian dan peternakan, dan lain-lain, hingga cerita tentang ekspor buah pisang dan manggis ke Taiwan dan Cina.

Lokasi Kecamatan Senduro yang kami kunjungi cukup tinggi. Daerah pegunungan yang dominan dengan tanaman perkebunan. Di kanan kiri jalan yang selalu menanjak, tampak pohon pisang di hampir semua pekarangan warga. Hampir tidak ada lahan kosong. Beberapa ada yang ditumpangsarikan dengan kopi.
Perjalanan dilanjutkan hingga sampai di rumah Bapak Sulaiman, ketua kelompok ternak kambing perah di Desa Kayu enak.
Semua peserta mendapat kesempatan mencicipi susu kambing yang sudah siap terhidang di depan pintu masuk rumah Pak Sulaiman. Berbagai macam hasil olahan susu kambing dibagikan ke semua peserta yang hadir. Bahkan susu segar pun juga dibagikan ke peserta. Hingga semua puas minum susu kambing.
Banyak hal disampaikan Pak Sulaiman, mulai dari budidaya ternak kambingnya, pemeliharaan, pengelolaan kandang dan pakan, penampungan hasil, penyimpanan, serta pemasaran susu ke beberapa daerah dan tentu saja cara pengolahan susu hingga dapat dikonsumsi.

Mengenai kelompok ternak, beliau menjelaskan tentang susu kambing para anggota yang ditampung oleh beliau sebagai ketua kelompok ternak, untuk dipasarkan bersama-sama.

Setelah puas minum susu kambing dan mendapat banyak informasi dari Pak Sulaiman, maka rombongan berpamitan dan menuju ke BPP Senduro untuk makan siang.


Peserta meninggalkan BPP Senduro setelah selesai sholat dzuhur. Perjalanan berlanjut menuju arah Kabupaten Malang hingga tiba kembali di Tulungagung.

Senin, 15 Agustus 2011

Pengendalian Wereng di Desa Macanbang

Pada pagi hari ini, Senin, 15 Agustus 2011 para petani di Desa Macanbang berkumpul untuk melakukan pengendalian massal hama wereng. Di lahan sawah sebelah timur Desa, hama wereng telah merusak kurang lebih 10 Ha lahan dan mengancam 63 Ha lahan sawah di sekitarnya.
Pengamatan yang dilakukan para petugas dari BPP Kec. Gondang menyatakan bahwa terjadi serangan wereng hingga merusak total dua blok lahan milik petani. Demikian pula pengamatan yang dilakukan oleh PPL setempat ( Ibu Sutinah, STP.) berdasarkan laporan kontak tani Desa Macanbang (Bapak Warkamto,SP.), ternyata memang telah cukup parah.
Bahkan ada salah seorang petani yang akhirnya berputus asa dan membiarkan sawahnya dihabiskan hama wereng.

Demikian sehingga pertanaman padi di lahan sawah sekitarnya terancam. Meskipun saat ini padi telah berumur 55 HST, namun hama wereng tetap bisa merusak padi hingga gagal panen.

Ancaman serangan hama tersebut pada lahan sawah di sekitarnya harus secepat mungkin diatasi. Oleh karenanya, para petani merespon sangat positif adanya kegiatan pengendalian massal hama wereng tersebut.

Mereka telah berkumpul sejak pukul 07.00 , meskipun informasi yang disampaikan adalah pukul 08.00. Para petani rela menunggu agak lama hingga para kontak tani datang. Kontak tani (Pak Warkamto dan Pak Panidi) sedang mengambil insektisida ke Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung.


Segera setelah insektisida datang, pembagian dilaksanakan dengan cepat. Insektisida yang diperolah dari Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung adalah virtako, produk dari Syngenta. Kepemilikan lahan yang sempit mengharuskan para petani berbagi. Insektisida virtako dengan volume 100 ml per kemasan, sesuai dosis anjuran adalah untuk 0,5 Ha. Rata-rata kepemilikan lahan setiap petani kurang dari 0,5 Ha. sehingga satu botol berisi 100 ml. dibagi sesuai dengan luas lahan masing-masing.

Teknik aplikasi insektisida, dosis per tangki semprot sesuai anjuran di label kemasan, keamanan bagi para petani dalam penggunaan racun serangga dan beberapa hal lain tampak sangat penting disampaikan pada saat akan melakukan penyemprotan.




Pak Warkamto dan Pak Panidi sedang melihat daftar petani yang telah mendapatkan insektisida dengan pembagian sesuai luas lahan.